Dengan berita investasi terkini—koreksi saham teknologi, kekhawatiran soal suku bunga dan gejolak di pasar kripto, banyak investor pemula pasti bingung mau bertahan, masuk atau kabur. Untungnya ada studi komprehensif yang membandingkan 40 aset (gabungan kripto, saham Indonesia, dan saham AS) dari 2020 sampai 2024 yang bisa membantu memberi peta risiko dan peluang. Studi itu menjelaskan kerangka analisisnya secara jelas: “Penelitian ini menggunakan data harga penutupan bulanan dari 40 aset (gabungan kripto, saham Indonesia, dan saham AS) selama lima tahun terakhir. Tiga metrik utama dianalisis: return bulanan, volatilitas sebagai proxy risiko dan Sharpe ratio untuk kinerja aset.” Kutipan ini penting karena menegaskan bahwa bukan cuma kenaikan harga yang dilihat, melainkan juga seberapa besar risiko yang harus ditanggung untuk meraih kenaikan tersebut.
Apa Temuannya??
Secara umum studi ini menemukan pola yang mungkin sudah terasa di hadapan kamu, kripto menawarkan potensi return yang tinggi tapi juga volatilitas yang jauh lebih ekstrem. Contoh konkret dari studi: “DOGE memiliki volatilitas tertinggi (14.02955)”, angka yang menggambarkan betapa liar pergerakan token itu dibandingkan banyak saham. Di sisi lain ada aset yang justru efisien setelah disesuaikan risiko, studi mencatat bahwa “TRX (Tron) menempati Sharpe ratio tertinggi (1.29783)” dan beberapa saham teknologi seperti NVDA dan AVGO menunjukkan Sharpe ratio tinggi, menandakan imbal hasil relatif baik setelah mempertimbangkan risiko. Intinya beberapa aset kripto memang menggiurkan, tapi tidak semuanya setara—ada yang berisiko tinggi tanpa kompensasi yang memadai dan ada pula yang relatif efisien.
Apa Artinya Buat Kamu yang Baru Mulai
Pertama, jangan cuma tergiur headline “naik 10x” tanpa lihat risikonya. Angka return besar sering datang bareng ayunan harga yang bisa bikin pusing. Kalau kamu gampang panik saat portofolio merah, alokasi besar ke aset sangat volatile bisa menggangu tidur dan membuat kamu jual di level terendah. Kenali dulu profil risiko dan tujuan keuanganmu sebelum memutuskan porsi alokasi.
Kedua, praktik sederhana tapi efektif. Pakai dollar‑cost averaging (beli berkala dengan jumlah tetap) supaya harga rata‑rata pembelian lebih stabil, ini cocok untuk aset yang volatil.
Ketiga, lakukan rebalancing secara berkala. Jika alokasi kripto melonjak gara‑gara reli, ambil untung sebagian untuk kembalikan alokasi awal—cara konservatif untuk “menjual yang naik, membeli yang turun” tanpa drama.
Risiko Selain Harga yang Sering Terabaikan
Selain volatilitas harga, ada risiko non‑harga yang penting. Di kripto, perhatikan regulasi yang bisa berubah cepat, risiko teknis seperti kehilangan password (kata kunci) dan celah keamanan bursa. Di saham, risiko lebih terkait fundamental perusahaan, persaingan industri dan guncangan makroekonomi. Studi ini menempatkan metrik volatilitas dan Sharpe ratio sebagai alat untuk memetakan risiko‑risiko tersebut dalam bentuk angka—membantu kamu membuat keputusan lebih berbasis data, bukan emosi.
Rekomendasi Praktis
Tentukan tujuan dan horizon waktu dulu. Kalau tujuan jangka pendek (<3 tahun), utamakan instrumen likuid dan rendah risiko. Untuk horizon menengah‑panjang (5–10 tahun), pertimbangkan saham blue chip sebagai tulang punggung dan alokasikan porsi kecil untuk kripto (misal 5–10% untuk profil moderat) bila kamu nyaman dengan volatilitasnya. Selalu sediakan dana darurat terpisah sebelum bereksperimen—ini penting supaya kamu tak terpaksa mencairkan investasi pada saat pasar turun.
Penutup: Gunakan Data, Bukan Hype!!
Studi 2020–2024 ini memberi peta karakter aset: siapa yang sering naik tinggi, siapa yang stabil dan siapa yang paling efisien. Gunakan temuan seperti volatilitas tinggi DOGE atau Sharpe ratio unggul TRX sebagai alat ukur, bukan lampu hijau otomatis untuk beli. Investasi itu proses belajar—mulai dari langkah kecil, konsisten dan fokus pada tujuan. Selamat berinvestasi!!!