Jumlah investor kripto di Indonesia lagi meledak-ledaknya. Data OJK mencatat lonjakan dari 13,3 juta orang di Februari 2025 menjadi 22,4 juta di Mei 2026, naik sekitar 68,4% hanya dalam 15 bulan, dengan nilai transaksi tembus Rp482,23 triliun sepanjang 2025. Tapi ada kenyataan yang jarang diomongin di grup Telegram sebelah: mayoritas investor ritel kripto justru buntung, bukan cuan. Salah satu biang keroknya sederhana. Banyak orang cuma lihat “return-nya berapa persen” tanpa pernah nanya “risikonya seberapa dalam”. Untungnya ada studi terbaru (2026) yang membedah 20 kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar selama lima tahun (2021 sampai 2025), mencakup 36.500 data harga harian dari CoinGecko, dengan kacamata yang beda dari kebanyakan analisis. Studi ini menegaskan pointnya: return besar itu belum tentu bagus kalau untuk mendapatkannya kamu harus tahan nyangkut sampai portofolio jeblok 90%. Sebuah pelajaran yang relevan banget buat kamu yang baru masuk di tengah euforia ini.

Sharpe Ratio Aja Nggak Cukup??

Selama ini kebanyakan orang (dan penelitian di Indonesia) mengukur kinerja aset pakai Sharpe ratio. Masalahnya, Sharpe menghukum semua gejolak harga, naik maupun turun, sebagai “risiko”. Padahal, siapa sih yang protes kalau harganya naik tajam? Yang bikin nangis kan cuma pergerakan ke bawah. Di sinilah studi ini pakai dua metrik yang lebih adil.

Sortino Ratio itu mirip Sharpe, tapi cuma menghitung gejolak ke bawah (downside deviation). Jadi dia menjawab: “return-nya sebanding nggak sama risiko jebloknya doang?” Calmar Ratio membandingkan cuan tahunan (CAGR) dengan maximum drawdown, yaitu penurunan terdalam dari puncak ke lembah. Gampangnya: kalau kamu apes beli di puncak, seberapa dalam kamu nyangkut, dan apakah cuannya sepadan. Patokannya, rasio di atas 1,0 artinya return cukup membayar risikonya; di bawah 1,0 artinya risiko yang kamu tanggung lebih besar dari imbalannya.

Apa Temuannya??

Hasilnya cukup bikin mikir. Dari 20 kripto, cuma 6 aset yang lolos Sortino Ratio di atas 1,0, dan cuma 3 yang lolos Calmar Ratio. Yang menohok: Bitcoin tidak lolos keduanya. BTC cuma dapat Sortino 0,62 dan Calmar 0,32. CAGR-nya (24,42%) tidak cukup membayar penurunan terdalamnya yang mencapai 76,72%. Ethereum, XRP, dan Cardano senasib.

Berikut 6 aset dengan Sortino Ratio tertinggi:

PeringkatAsetCAGRMax DrawdownSortinoCalmar
1SHIB877,68%−91,98%10,079,54
2SOL132,29%−96,30%1,861,37
3BNB86,84%−70,76%1,731,23
4LEO47,16%−56,22%1,320,84
5TRX60,20%−69,82%1,270,86
6DOGE84,15%−92,21%1,180,91
…9BTC24,42%−76,72%0,620,32

Fenomena SHIB: Angka Juara, Risiko Bikin Nangis

Lihat SHIB di puncak daftar? Jangan langsung FOMO. Studi ini menyebutnya “paradoks spekulatif”. Rasio SHIB terlihat juara mutlak karena harganya naik lebih dari 89.000 kali lipat dari titik nyaris nol di awal 2021. Angka yang secara matematika benar, tapi mustahil terulang untuk aset yang harganya sudah mapan. Di saat bersamaan, maximum drawdown SHIB mencapai 91,98%. Kalau kamu apes masuk di puncak, modalmu bisa amblas lebih dari 90%. Jadi “juara” di atas kertas itu sebenarnya jebakan buat yang telat masuk.

Bandingkan dengan contoh yang lebih sehat. LEO mencetak CAGR “cuma” 47,16%, jauh di bawah DOGE yang 84,15%. Tapi Sortino LEO (1,32) justru lebih tinggi dari DOGE (1,18), karena gejolak jeblok LEO jauh lebih kecil (35,69% vs 71,49%). Inilah inti pelajarannya: aset yang lebih pandai melindungi modalmu bisa mengalahkan aset yang return mentahnya lebih besar.

Apa Artinya Buat Kamu yang Baru Mulai

  • Pertama, berhenti menilai kripto cuma dari “naik berapa persen”. Cek juga seberapa dalam dia pernah jeblok.
  • Kedua, hati-hati sama “juara palsu”. Angka return fantastis sering datang dari aset harga nyaris nol yang mustahil mengulang performanya.
  • Ketiga, ingat siklusnya. Studi ini merentang satu siklus penuh: 2021 semua hijau, 2022 crypto winter semua merah, 2023 sampai 2024 pemulihan, lalu 2025 koreksi lagi (14 dari 20 aset turun). Waktu masuk itu penting, makanya beli berkala (dollar-cost averaging) lebih aman daripada nyemplung sekaligus.

Rekomendasi Praktis

Tentukan tujuan dan horizon waktu dulu. Kalau uangmu dibutuhkan dalam waktu dekat, kripto bukan tempatnya. Untuk yang tahan jangka panjang dan nyaman dengan gejolak, jadikan kripto sebagai porsi kecil (misal 5 sampai 10% untuk profil moderat), bukan tumpuan utama. Kalau tetap mau, studi ini mencatat bahwa di antara para Alpha Leaders, BNB punya profil paling kalem. Penurunan terdalamnya “cuma” 70,76%, dibanding SOL (96,30%) dan SHIB (91,98%). Ini catatan historis ya, bukan ajakan beli. Dan yang paling penting: sediakan dana darurat terpisah sebelum bereksperimen.

Penutup: Gunakan Data, Bukan Hype!!

Studi 2021 sampai 2025 ini memberi peta yang jujur: dari 20 kripto raksasa, cuma segelintir yang benar-benar membayar risikonya, dan sebagian besar, termasuk Bitcoin, justru menghancurkan modal kalau diukur dari seberapa dalam ia bisa jeblok. Pakai angka seperti Sortino, Calmar, dan maximum drawdown sebagai alat ukur sebelum beli, bukan cuma menatap grafik yang lagi hijau. Investasi itu proses belajar. Mulai dari langkah kecil, konsisten, dan fokus pada tujuan. Selamat berinvestasi!!!

FAQ

Apa itu Sortino Ratio? Sortino Ratio mengukur return sebuah aset dibanding risiko jebloknya saja (downside deviation). Berbeda dari Sharpe ratio yang menghitung semua gejolak, Sortino hanya menghukum pergerakan ke bawah, yang memang merugikan investor.

Apa bedanya Sortino dan Sharpe Ratio? Sharpe menganggap semua gejolak (naik maupun turun) sebagai risiko. Sortino cuma menghitung gejolak ke bawah. Karena kripto sering naik tajam lalu jatuh dalam, Sortino dianggap lebih adil untuk menilai aset seperti ini.

Apa itu Calmar Ratio dan maximum drawdown? Maximum drawdown adalah penurunan terdalam dari puncak ke lembah dalam satu periode. Calmar Ratio membandingkan cuan tahunan (CAGR) dengan angka penurunan terdalam itu, menjawab apakah keuntungannya sepadan dengan jurang terburuk yang harus dilewati.

Kripto apa yang kinerjanya paling bagus menurut studi ini? Secara historis 2021 sampai 2025, SOL dan BNB adalah performer terkuat yang “sehat” (lolos Sortino dan Calmar di atas 1,0). SHIB memang di peringkat 1, tapi itu anomali statistik karena harga awalnya nyaris nol. Ini data historis, bukan saran investasi.

Laksana, R., Nugraha, E., Sukardi, H. A., & Kharisman, A. W. (2026). Rethinking Cryptocurrency Performance: Downside Risk Evaluation Using Sortino and Calmar Ratios. Ekonomi, Keuangan, Investasi dan Syariah (EKUITAS), 8(1), 92-100. https://doi.org/10.47065/ekuitas.v8i1.10747